MEDIA PENGAJARAN PENDIDIKAN JASMANI
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Oleh karena itu belajar dapat terjadi kapan dan dimana saja. Ini bisa dibuktikan dengan berubahnya tingkah laku seseorang yang bisa terjadi pada tingkatan pengetahuan, keterampilan, atau sikapnya.
Apabila proses tersebut dilaksanakan di sekolah (formal) maka perubahan yang terjadi pada siswa secara terencana, baik dalam aspek pengetahuan, keterampilan, maupun sikap. maka proses interaksinya adalah dikelas, guru, petugas perpustakaan, kepala sekolah, bahan atau materi pelajaran.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mendorong upaya-upaya pembaharuan dan pemanfaatan hasil-hasil teknologi dalam proses belajar. Para guru dituntut agar mampu menggunakan alat-alat yang dapat diesediakan oleh sekolah, dan tidak tertutup kemungkinan bahwa alat-alat tersebut sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Guru sekurang-kurangnya dapat menggunakan alat yang murah dan efisien yang meskipun sederhana dan bersahaja tetapi merupakan keharusan dalam upaya mencapai tujuan pengajaran yang diharapkan. Disamping mampu menggunakan alat-alat yang tersedia guru juga dituntut untuk mengembangkan keterampilan membuat media pengajaran yang akan digunakannya apabila media tersebut belum tersedia.untuk itu guru harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pengajaran
B. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah pada makalah media pengajaran penjas yakni:
1. Apakah yang melandasi media digunakan dalam dunia pendidikan ?
2. Apa saja jenis-jenis alat dalam media pembelajaran ?
3. Apakah fungsi dan manfaat media dalam pembelajaran ?
4. Dengan adanya alat bantu (media) pembelajaran penjas di sekolah, apakah akan membantu proses pembelajaran yang lebih efektif dan efisien ?
5. Bagaimanakah cara memodifikasi media atau alat bantu pembelajaran Pendidikan Jasmani di sekolah ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. LANDASAN TEORITIS PENGGUNAAN MEDIA PENDIDIKAN
Pemerolehan pengetahuan dan keterampilan, perubahan-perubahan sikap dan prilaku dapat terjadi karena interaksi dengan pengalaman baru dengan pengalaman yang pernah terjadi sebelumnya. Menurut Bruner (1966:10-11) ada tiga tingkatan utama modus belajar, yaitu pengalaman langsung (enactive), pengalaman pictorial / gambar (iconic), dan pengalaman abstrak (symbolic).
Tingkatan perolehan pengalaman hasil belajar seperti itu digambarkan oleh dale (1969) sebagai suatu proses komunikasi. Materi yang ingin disampaikan dan diinginkan siswa dapat menguasainya disebut sebagai pesan. Guru sebagai sumber pesan menuangkan pesan kedalam symbol-bimbol tertentu (enconding) dan siswa sebagai penerima menafsirkan symbol-simbol tersebut sehingga dipahami sebagai pesan (deconding).
B. DEFINISI MEDIA
1. Pengertian Media
Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiyah berarti “tengah, perantara, atau pengantar”. Dalam bahasa arab, media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Gerlach & Ely (1971) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperolah pengetahuan, keterampilan, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswanya mampu memperolah pengetahuan, keterampilan atau sikap. Dalam pengertian ini guru, buku teks, ataupun lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar-mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis ataupun elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.
2. Media Pendidikan
Media pendidikan merupakan seperangkat alat bantu atau pelengkap yang digunakan oleh guru atau pendidik dalam rangka berkomunikasi dengan siswa atau peserta didik. Alat bantu itu disebut media pendidikan, sedangkan komunikasi adalah sistem penyampaian.
C. GURU SEBAGAI FASILITATOR PROSES BELAJAR MENGAJAR
Menjadi guru penjasorkes yang mempunyai kompetensi pedagogik, sosial, profesional, dan kepribadian sangatlah tidak mudah karena dituntut untuk menguasai gerak keterampilan olahraga sebagai bekal untuk menjadi guru yang berkompetensi hebat. Sangat keliru jika seseorang beranggapan bahwa guru Penjasorkes hanya cukup dengan bekal potensi akademik saja. Lebih ironis lagi kalau hanya dengan bekal “sempritan”; pernyataan ini sangatlah keliru.
Guru penjasorkes adalah orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik secara utuh dengan mengupayakan seluruh potensi yang dimiliki, baik ranah kognitif, afektif, fisik maupun psikomotoriknya. Siswa sebagai pusat pembelajaran penjasorkes di sekolah, maka peran guru sebagai fasilitator dalam membantu dan membimbing siswa mencapai tujuan belajar sangatlah penting. Guru penjasorkes sebagai fasilitator merupakan perpaduan antara pemimpin dengan manajer dalam proses belajar mengajar.
Guru tidak saja menjadi sumber informasi, tetapi juga sebagai sumber diagnosis yang memantapkan, mengembangkan, serta menjelaskan jalannya proses belajar mengajar. Guru sebagai fasilitator secara garis besar berperan sebagai berikut:
1. Menekankan pada perencanaan pelaksanaan proses belajar mengajar dan bukan hanya pada control proses saja,
2. Membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran dan control terhadap proses tersebut dilakukan secara bersama oleh guru dan para siswa,
3. Memberikan petunjuk-petunjuk bila diperlukan selama proses belajar mengajar berlangsung dan menetapkan bahwa tujuan belajar telah tercapai.
D. JENIS – JENIS MEDIA PEMBELAJARAN
Penggolongan media pembelajaran menurut Gerlach dan Ely yang dikutip oleh Rohani (1997 : 16) yaitu :
a. Media Visual :
grafik, diagram, chart, bagan, poster, kartun, komik, foto, buku, ensiklopedia, majalah, surat kabar, buku referensi dan barang hasil cetakan lain, gambar, ilustrasi, kliping, film bingkai/slide, film rangkai (film stip), transparansi, mikrofis, overhead proyektor, grafik, bagan, diagram.
b. Media Audial :
radio, tape recorder, laboratorium bahasa, dan sejenisnya
c. Projected still media :
slide; over head projektor (OHP), in focus dan sejenisnya
d. Projected motion media :
film, televisi, video (VCD, DVD, VTR), komputer dan sejenisnya.
e. Benda –benda hidup, simulasi maupun model.
Dalam rangka kegiatan pendidikan, ada beberapa media yang dapat digunakan, mulai dari yang paling sederhana sampai kepada yang canggih. Beberapa media tekhnologi pendidikan dimaksud antara lain seperti tersebut di bawah ini.
1) Papan Tulis
Papan tulis digunakan hamper di setiap ruangan kelas yang biasanya terbuat dari papan biasa, tripleks atau slate. Papan tulis sangat baik untuk membuat tulisan, gambar, grafik, dan sebagainya.
2) Bulletin board dan display
Alat ini biasanya dibuat secara khusus dan digunakan untuk mempertontonkan pekerjaan siswa, gambar-gambar, badan poster atau objek berdimensi lainnya.
3) Gambar dan ilustrasi fotografi
Gambar ini tidak diproyeksikan, terdapat di sekitar kita dan relatif mudah relatif mudah diperoleh untuk ditunjukkan kepada anak.
4) Slide dan filmstrip
Slide dan filmstrip merupakan gambar yang diproyeksikan, dapat dilihat dan mudah dioperasikan.
5) Film
Film pendidikan dianggap efrektif untuk digunakan sebagai alat bantu pengajaran. Film yang diputar di depan siswa harus merupakan bagian integral dari kegiatan pengajaran.
6) Rekaman pendidikan
Istilah asing dari alat ini adalah recording, yakni alat audio yang tidak diikuti dengan visual. Melalui alat ini kita dapat mendengarkan cerita, pidato, music, sajak, pengajian, dan lain-lain.
7) Radio pendidikan
Rafio pendidikan mempunyai nilai tertentu, seperti memberikan berita up to date, menarik minat, jangkauan luas, berdasarkan kenyataan, mendorong kreatif, mempunyai nilai, rekreatif.
8) Televisisi pendidikan
Televisi pendidikan mempunyai nilai tertentu yaitu bersifat langsung dan nyata, jangkauan luas, memungkinkan penyajian aneka ragam peristiwa dan menarik minat.
9) Peta dan globe
Peta adalah penyajian visual dari muka bumi, globe adalah bola bumi atau model. Peta dan globe berbeda secara gradual, akan tetapi saling melengkapi.
10) Buku pelajaran
Buku pelajaran merupakan alat pelajaran yang paling populer dan banyak digunakan di tengah-tengah penggunaan alat pelajaran lainnya, lebih-lebih akhir-akhir ini, di mana alat cetak telah memasuki abad super-mdern.
11) Overhead projector
Proyektor lintas kepala memproyeksikan pada layar yang apa yang tergambar atau tertulis pada kertas transparan.
12) Tape recorder
Alat ini antara lain murid dapat mendengarkan kembali apa yang dibacanya, dapat digunakan dalam interview, memudahkan pemahaman terhadap penguasaan anak terutama dalam pelajaran bahasa.
13) Alat teknologi pendidikan lainnya.
E. FUNGSI MEDIA PEMBELAJARAN
a. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik. Pengalaman tiap peserta didik berbeda-beda, tergantung dari faktor-faktor yang menentukan kekayaan pengalaman anak, seperti ketersediaan buku, kesempatan melancong, dan sebagainya. Media pembelajaran dapat mengatasi perbedaan tersebut. Jika peserta didik tidak mungkin dibawa ke obyek langsung yang dipelajari, maka obyeknyalah yang dibawa ke peserta didik. Obyek dimaksud bisa dalam bentuk nyata, miniatur, model, maupun bentuk gambar –gambar yang dapat disajikan secara audio visual dan audial.
b. Media pembelajaran dapat melampaui batasan ruang kelas. Banyak hal yang tidak mungkin dialami secara langsung di dalam kelas boleh para peserta didik tentang suatu obyek, yang disebabkan, karena
- obyek terlalu besar;
- obyek terlalu kecil;
- obyek yang bergerak terlalu lambat;
- obyek yang bergerak terlalu cepat;
- obyek yang terlalu kompleks;
- obyek yang bunyinya terlalu halus;
- obyek mengandung berbahaya dan resiko tinggi.
c. Melalui penggunaan media yang tepat, maka semua obyek itu dapat disajikan kepada peserta didik.
d. Media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya.
e. Media menghasilkan keseragaman pengamatan.
f. Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, dan realistis.
g. Media membangkitkan keinginan dan minat baru.
h. Media membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar.
i. Media memberikan pengalaman yang integral/menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak.
Selain itu media memiliki multi makna, baik dilihat secara terbatas maupun secara luas. Munculnya berbagai macam definisi, disebabkan adanya perbedaan dalam sudut pandang, maksud dan tujuannya adalah :
a. Media sebagai segala bentuk yang dimanfaatkan dalam proses penyaluran informasi.
b. Media sebagai segala benda yang yang dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, dibaca, atau dibincangkan beserta instrumen yang digunakan untuk kegiatan tersebut.
c. Media sebagai “komponen sumber belajar di lingkungan peserta didik yang dapat merangsang untuk belajar”.
d. Media sebagai wahana fisik yang mengandung intruksional.
e. Media harus didukung sesuatu untuk mengkomunikasikan materi (pesan kurikuler) supaya terjadi proses belajar mengajar.
f. Media sebagai suatu teknik untuk menyampaikan suatu pesan, dimana media sebagai teknologi pembawa informasi/pesan intruksional.
g. Bila media dipandang secara luas/makro dalam sistem pendidikan, maka media adalah segala sesuatu yang dapat merangsang terjadinya proses belajar pada diri peserta didik.
F. MANFAAT DARI MEDIA PEMBELAJARAN
Media pembelajaran sebagai alat bantu dalam proses belajar dan pembelajaran adalah suatu kenyataan yang tidak bisa kita pungkiri keberadaannya. Karena memang gurulah yang menghendaki untuk memudahkan tugasnya dalam menyampaikan pesan–pesan atau materi pembelajaran kepada siswanya. Guru sadar bahwa tanpa bantuan media, maka materi pembelajaran sukar untuk dicerna dan dipahami oleh siswa, terutama materi pembelajaran yang rumit dan komplek.
Secara umum manfaat media pembelajaran menurut Harjanto (1997 : 245) adalah:
a. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu verbalistis (tahu kata–katanya, tetapi tidak tahu maksudnya).
b. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera.
c. Dengan menggunakan media pembelajaran yang tepat dan bervariasi dapat diatasi sikap pasif siswa.
d. Dapat menimbulkan persepsi yang sama terhadap suatu masalah.
Selanjutnya menurut Purnamawati dan Eldarni (2001 : 4) yaitu :
a. Membuat konkrit konsep yang abstrak, misalnya untuk menjelaskan peredaran darah.
b. Membawa obyek yang berbahaya atau sukar didapat di dalam lingkungan belajar.
c. Manampilkan obyek yang terlalu besar, misalnya pasar, candi.
d. Menampilkan obyek yang tidak dapat diamati dengan mata telanjang.
e. Memperlihatkan gerakan yang terlalu cepat.
f. Memungkinkan siswa dapat berinteraksi langsung dengan lingkungannya.
g. Membangkitkan motivasi belajar.
h. Memberi kesan perhatian individu untuk seluruh anggota kelompok belajar.
i. Menyajikan informasi belajar secara konsisten dan dapat diulang maupun disimpan menurut kebutuhan.
j. Menyajikan informasi belajar secara serempak (mengatasi waktu dan ruang).
k. Mengontrol arah maupun kecepatan belajar siswa.
G. MEDIA SEBAGAI ALAT BANTU PEMBELAJARAN PENJAS DI SEKOLAH
Dengan menggunakan media atau alat bantu dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani di SLTP diyakini akan membantu proses pembelajaran yang lebih efektif dan efisien. Mengapa? Karena dengan pemikiran secara logika untuk mengajari jumlah siswa kurang lebih 30 orang tanpa menggunakan media atau alat bantu, sangat kecil kemungkinannya semua siswanya dapat menangkap apa yang diajarkan guru. Dari kenyataan yang diamati Penulis terhadap pembelajaran Pendidikan Jasmani tanpa menggunakan media, kebanyakan siswanya komplain dan sebagai dampaknya adalah siswa lebing senang bermain–main dan bahkan sama sekali tidak ikut dalam proses pembelajaran.
Dr. Soepartono dalam bukunya “Media Pembelajaran” (2000: 14) menyatakan bahwa penggunaan media atau alat bantu dalam proses pembelajaran sangat bermanfaat bukan hanya untuk siswa saja melainkan bermanfaat juga bagi guru.
Kemp dan Dayton (1985) dalam buku karangan Dr. Soepartono “Media Pembelajaran (2000: 15) juga mengatakan bahwa media itu sangat bermanfaat dalam proses pembelajaran, yaitu sebagai berikut:
1. Penyampaian materi dapat diseragamkan.
2. Proses instruksional menjadi lebih menarik.
3. Proses belajar siswa menjadi lebih interaktif.
4. Jumlah waktu belajar mengajar dapat dikurangi.
5. Kualitas belajar siswa dapat ditingkatkan.
6. Proses belajar dapat terjadi dimana saja dan kapan saja.
7. Sikap positif siswa terhadap meteri belajar maupun tehadap proses belajar itu sendiri dapat ditingkatkan.
8. Peran guru dapat berubah ke arah yang lebih positif dan produktif.
H. MEMODIFIKASI MEDIA PEMBELAJARAN PENJAS
Dalam pengadaan media atau alat bantu pembelajaran Pendidikan Jasmani dapat dibuat dengan memanfaatkan bahan-bahan bekas masyarakat. contohnya pengadaan media atau alat bantu pembelajaran tolak puluru dan renang.
1. Pengadaan peluru
Peluru dapat dibuat dengan bahan–bahan sebagai berikut: bola pelastik, pasir, semen, air, timbangan. Proses pembuatannya adalah semen, pasir, dan air dicampur dan diaduk dengan merata sesuai dengan porsinya. Setelah agak kering dan merata, dimasukkan ke dalam bola plastik berukuran sedang kira – kira berdiametr 10 cm yang sudah dibuat lobang kecil dan diisi penuh kemudian dikeringkan. Setelah kering, bola yang berisi campuran itu ditimbang dan diujicobakan.
2. Pengadaan pelampung
Pelampung adalah salah satu media atau alat bantu yang dapat digunakan dalam pembelajaran teknik dasar renang. Dalam hal ini pelampung dapat dibuat dengan menggunakan botol akua berukuran sedang, benang pancing (nilon), lem setan, tali pelastik, yang dirancang dan didesain sedemikian rupa.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Media merupakan alat bantu yang menunjang proses belajar mengajar. Guru, buku teks, ataupun lingkungan sekolah juga merupakan media.
Penggolongan media pembelajaran menurut Gerlach dan Ely yang dikutip oleh Rohani (1997 : 16) yaitu :
a. Media Visual
b. Media Audial
c. Projected still media
d. Projected motion media
e. Benda –benda hidup, simulasi maupun model.
Dengan menggunakan media atau alat bantu dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani diyakini akan membantu proses pembelajaran yang lebih efektif dan efisien.
B. SARAN
Dalam penyususnan makalah ini, penulis menyadari bahwa banyaknya kekurangan, maka dari itu penulis menerima kritik dn saran yang membangun dari pembaca dalam penyempurnaan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Danim, S. 2010. Media Komunikasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Ihsan, A. & Hasmiyati. 2011. Manajemen Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Makassar: Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar.
Salim, M. Agus. 2014. Kumpulan Makalah dan Pengetahuan Dunia Bisnis Online. http://hobi-online.blogspot.com/2014/09/makalah-media-pengajaran-dan-pendidikan.html. Di akses pada: 7 Maret 2015.
Ensiklo Penjas. 2012. Media Pembelajaran Penjas. http://pendidikanjasmani13.blogspot.com/2012/12/media-pembelajaran-penjas.html. Di akses pada: 7 Maret 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar